Bertani dengan Cinta: Perjalanan Mama Vero Menjaga Alam Melalui Pertanian Organik

Mama Vero sedang mempersiapkan sabut kelapa sebagai mulsa organik untuk melindungi tanah

Istilah pertanian organik sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pertanian, namun tidak semua petani mau melakukannya. Dibandingkan pertanian anorganik, pertanian organik memang membutuhkan usaha lebih: mulai dari mengumpulkan bahan alami, hingga mengolahnya menjadi pupuk dan pestisida organik.

Namun, bagi Mama Vero, seorang petani perempuan dari Desa Taiftob, Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan pilihan bertani organik bukan sekadar strategi, melainkan bentuk cinta. Di tengah banyaknya petani lain yang menilai pertanian anorganik lebih aman secara bisnis, ia tetap setia pada cara bertani yang diwariskan orang tuanya.

“Saya menggunakan bahan-bahan organik dalam pertanian karena itulah yang diajarkan orang tua saya. Orang tua saya mampu bertani dan tahan terhadap berbagai risiko di lahan tanpa menggunakan bahan kimia, oleh karena itu saya yakin sangat banyak cara yang bisa digunakan dalam menjalankan usaha tani secara organik.”

Bagi Mama Vero, pertanian organik sudah terbukti berhasil dari generasi ke generasi. Sistem ini tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga lebih tangguh karena komoditas yang dibudidayakan bervariasi. Jika satu jenis gagal, masih ada tanaman lain yang bisa dipanen hasilnya.

Sebaliknya, pertanian anorganik kerap bergantung pada penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan. Ironisnya, sebagian petani bahkan enggan mengkonsumsi hasil panennya sendiri karena takut dampak bahan kimia, dan memilih menjual semuanya demi keuntungan.

“Saya tetap mempertahankan pertanian dengan cara organik, karena saya dan keluarga juga mengkonsumsi hasil kebun kami. Selain itu saya juga memikirkan para pembeli hasil kebun saya, supaya mereka juga mendapatkan manfaat kesehatan dari hasil kebun kami, bukan mendapat penyakit.”

Proses membuat pupuk dan pestisida organik memang membutuhkan usaha lebih, tapi bahan-bahannya tersedia melimpah di alam. Dari daun mimba, serai, pepaya, tembakau, hingga kotoran ternak, semua ada di sekitar kebun. Selain lebih sehat, cara ini juga menekan biaya produksi, sehingga petani tetap bisa meraih keuntungan. Prinsip ekonomi sederhana: efisiensi.

Selain mampu menggunakan bahan-bahan disekitar, Mama Vero juga membagikan pengetahuan yang dimilikinya kepada petani lain agar mandiri dalam menyiapkan pupuk dan pestisida organik. Baginya, praktik pertanian organik bukan hanya soal produksi pangan sehat, tetapi juga sebuah kewajiban kita dalam hal menjaga kelestarian alam. Usaha pertanian berbeda dengan usaha produksi lainnya yang tidak terlalu bergantung pada kondisi alam.

”Selain usaha saya yang bergantung pada alam, hidup kita semua bergantung pada alam: tanah subur, air bersih dan udara segar pemberian Tuhan yang harus dijaga. Dengan menerapkan pertanian organik, kita secara juga ikut menjaga keberlanjutan lingkungan hidup kita.”

Apa yang dilakukan Mama Vero sejatinya mencerminkan People, Profit dan Planet: melindungi kesehatan petani dan konsumen, mengurangi biaya dan bisa menghasilkan profit maksimal, serta menjaga kelestarian alam dan bumi tempat kita tinggal. Ini adalah investasi jangka panjang untuk generasi mendatang, memastikan bahwa mereka juga dapat menikmati manfaat dari alam yang lestari dan produktif.

Dari Mama Vero kita belajar bahwa menjaga lingkungan yang berkelanjutan bisa dimulai dari langkah sederhana: cinta pada pertanian organik. Karena semua yang dilakukan dengan cinta, usaha tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan jalan menuju tujuan yang lebih besar.